Awalnya Dikira Mustahil, Ilmuwan China Sukses Kloning Monyet

22

Science telah berkembang pesat beberapa dekade terakhir, manfaatnya bukan sedikit namun tak jarang juga menjadi bumerang bagi kehidupan manusia. Dilansir dari Futurism, kabar terbaru dari para ilmuwan Cina di Chinese Academy of Sciences Institute of Neuroscience, Qiang Sun, dua monyet kembar identik jenis macaque berhasil dilahirkan dengan teknik kloning (24/01). Keberhasilan ini merupakan yang pertama di dunia untuk hewan primata. Dengan suksesnya pengembangan ini, orang-orang mulai bertanya-tanya tentang kemungkinan manusia dilahirkan dengan cara yang sama.

Kloning dalam ilmu bioteknologi dikaitkan dengan upaya manusia untuk menyalin DNA atau gen, sel, atau organisme. Terlepas dari simpang siur soal etika, pengembangan dalam ilmu bioteknologi seringkali mengejutkan memang. Dua monyet kembar hasil kloning ilmuwan Cina pasti melewati berbagai pengembangan teknis, cari tahu yuk bareng News & Feature soal fakta mengejutkan lainnya tentang dua monyet kembar ini.

1. Dua monyet hasil kloning ini dilahirkan dari pengembangan teknik yang paling mutakhir

Dua monyet kembar ini bernama Zhong Zhong dan Hua Hua, mereka dilahirkan di sebuah laboratorium penelitian di Cina. Zhong Zhong berusia 8 minggu, dan Hua Hua lebih muda seminggu darinya. Prosesnya duplikat ini sangat susah, para ilmuwan perlu 79 kali percobaan. Prosedurnya antara lain berupa menaruh DNA dari sel janin pada inti dari sel telur betina. Setelah itu proses dilanjutkan dengan melakukan implan sel telur yang direkayasa kepada monyet betina. Cara ini merupakan pengembangan dari kloning hewan sebelumnya, domba Dolly 1996.

2. Meski menuai sukses terobosan ini mendapat sejumlah kritik dari berbagai ahli terkait masalah etika

Dilansir dari Viva.co.id, Robin Lovell-Badge, seorang peneliti dari Francis Crick Institute London mengkritik prosedur kloning yang dilakukan terhadap monyet tersebut. Dia menilai prosedurnya ‘berbahaya’ dan tidak efisien. Lain lagi Darren Griffon dari Universitas Kent Inggris, dia menyatakan bahwa keberhasilan kloning tersebut akan meningkatkan problem etika.

3. Walaupun begitu, misi utama kloning dua monyet ini ditujukan untuk penelitian sistem kekebalan tubuh manusia

Misi utama dari kloning tersebut adalah untuk bahan penelitian sistem kekebalan tubuh pada manusia serta mencari jawaban dari berbagai ancaman penyakit untuk manusia itu sendiri. Masalah kekebalan tubuh jadi sorotan utama namun bukan tak mungkin keberhasilan kloning ini juga menjawab solusi pengobatan penyakit kanker atau penyakit genetik lainnya.

4. Teknik kloning pernah dilakukan sebelumnya kepada hewan mamalia yaitu domba tahun 1996. Tetapi untuk primata baru kali ini berhasil

Dua monyet kembar hasil kloning adalah yang pertama di dunia yang sukses dilakukan kepada primata. Namun, pada tahun 1996 prosedur kloning untuk hewan telah dilakukan sebelumya kepada domba. Kasus domba Dolly 1996 sungguh mengejutkan dunia, seperti dua monyet kembar asal Cina itu, domba Dolly juga menuai kontroversi. Domba Dolly adalah hasil sukses dari teknik kloning dengan sel dewasa yang pertama di dunia saat itu. Peneliti dari Roslin Institute di kota Edinburgh, Skotlandia telah memengaruhi dunia, sejak saat itu prosedur kloning dengan teknik SCNT pun dikembangkan.

5. Kloning manusia, konon pernah dilakukan

Peneliti di Chinese Academy of Sciences Institute of Neuroscience menjelaskan bahwa kloning monyet macaque ini dimulai tanpa ambisi untuk menerapkan prosedurnya kepada manusia. Namun kesuksesan tim ini tetap saja menimbulkan pergejolakan tersendiri di kalangan ilmuwan, terutama terkait kemungkinan kloning terhadap manusia. Wacana yang jelas jauh lebih kontroversial dibandingkan penelitian-penelitian tentang kloning hewan.

Meskipun belum ada yang benar-benar terbukti, banyak pihak yang sebenarnya telah mengklaim berhasil mengkloning manusia. Dari tahun 2002 ketika Clonaid mengaku berhasil menciptakan dan melahirkan bayi perempuan hasil kloning bernama EVE beserta 12 manusia lainnya, sampai sekelompok peneliti di Korea Selatan yang pada tahun 2004 mengklaim berhasil menciptakan kloning embrio manusia. Namun ketika diminta menyerahkan buktinya, klaim-klaim kloning manusia tersebut tidak pernah terbukti.

Kloning sebenarnya dapat dimaknai dengan berbagai sudut pandang. Anak kembar pun sebenarnya termasuk hasil kloning alamiah karena embrionya berbagi DNA yang hampir sama. Namun ketika proses tersebut berusaha direplika dan direkayasa secara ilmiah, banyak yang berpendapat manusia sepertinya ‘terlalu jauh’ mencampuri urusan Sang Maha Pencipta. Banyak juga yang khawatir konsekuensi masa depannya justru akan menghancurkan pola kehidupan manusia. Terlepas dari kontroversi tersebut, ilmu pengetahuan tampaknya akan terus berkembang dan mendobrak apa yang sekarang kita kira mustahil. Tapi tinggal bagaimana kita sendiri menyikapi dan menggunakan ilmu pengetahuan itu sendiri.